Imam Al Qurthubi: Ayat ini Dalil Pokok Wajibnya Mengangkat Seorang Khalifah, Tafsir Ulama Tentang Surat Al Baqarah Ayat 30
Pembahasan mengenai Khilafah dalam Islam merupakan salah satu tema yang telah lama dibahas dalam literatur keislaman, khususnya dalam kitab-kitab fikih, tafsir, dan politik syariah. Dalam perbincangan kontemporer, istilah Khilafah juga sering dikaitkan dengan berbagai tuduhan yang tidak berdasar.
Namun, kajian mendalam terkait hal ini justru mengemukakan hal yang jauh dari yang dituduhkan, pembahasan mengenai khilafah tidak semestinya dilepaskan dari khazanah keilmuan Islam. Sejumlah ulama terdahulu membahas persoalan kepemimpinan umat, imamah, dan khilafah sebagai bagian dari perkara yang memiliki landasan dalam syariat.
Bahkan, sebagian ulama menyebut kedudukan kewajiban tersebut dengan istilah tajul furudh, yakni “mahkota berbagai kewajiban”. Di antara dalil yang digunakan dalam pembahasan ini adalah QS Al-Baqarah ayat 30.
QS Al-Baqarah Ayat 30 tentang Khalifah di Muka Bumi
Allah SWT berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Dia berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’”
QS Al-Baqarah: 30
Ayat ini menjadi salah satu ayat yang digunakan dalam pembahasan mengenai makna khalifah dan kepemimpinan manusia di muka bumi.
Penjelasan Ibnu Katsir tentang Khalifah
Al-Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan firman Allah:
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”
menjelaskan bahwa makna tersebut berkaitan dengan suatu kaum yang sebagian menggantikan sebagian lainnya secara silih berganti, dari masa ke masa dan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Penjelasan tersebut dikaitkan dengan beberapa ayat Al-Qur'an lainnya, di antaranya:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ
“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi.”
QS Al-An'am: 165
Allah juga berfirman:
وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ
“Dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah-khalifah di bumi.”
QS An-Naml: 62
Demikian pula firman-Nya:
وَلَوْ نَشَاءُ لَجَعَلْنَا مِنْكُمْ مَلَائِكَةً فِي الْأَرْضِ يَخْلُفُونَ
“Dan sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan di antara kamu malaikat-malaikat yang menggantikan kamu di bumi.”
QS Az-Zukhruf: 60
Serta:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ
“Maka datanglah setelah mereka generasi yang lain.”
QS Al-A'raf: 169
Dari rangkaian ayat tersebut, pembahasan mengenai istilah khalifah tidak hanya berkaitan dengan individu tertentu, tetapi juga dengan konsep pergantian generasi dan kepemimpinan manusia di bumi.
Tafsir Al-Qurthubi: Ayat tentang Pengangkatan Imam dan Khalifah
Dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an, Imam Al-Qurthubi memberikan penjelasan yang secara eksplisit mengaitkan QS Al-Baqarah ayat 30 dengan persoalan pengangkatan imam atau khalifah.
Beliau berkata:
هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ما روي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه
“Ayat ini merupakan dasar mengenai pengangkatan seorang imam dan khalifah yang didengar dan ditaati, sehingga dengan keberadaannya persatuan dapat terwujud dan hukum-hukum kepemimpinan dapat dijalankan. Tidak terdapat perselisihan mengenai kewajiban tersebut di kalangan umat maupun para imam, kecuali pendapat yang diriwayatkan dari Al-Ashamm, yang dianggap tidak memahami syariat, demikian pula orang-orang yang mengikuti pendapat dan mazhabnya.”
Kutipan tersebut terdapat dalam Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an karya Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr Syamsuddin Al-Qurthubi, jilid I, halaman 264.
Dengan demikian, dalam penafsiran Al-Qurthubi, istilah khalifah dalam ayat tersebut tidak hanya dipahami dalam pengertian “Khalifatu-Llah fi al-ardh”, tetapi juga dikaitkan dengan kedudukan seorang pemimpin atau as-sulthan al-a'zham.
Mengapa Ibnu Katsir Mengutip Pendapat Al-Qurthubi?
Penjelasan mengenai kewajiban mengangkat khalifah juga dinukil oleh Ibnu Katsir ketika membahas QS Al-Baqarah ayat 30.
Beliau menukil pendapat Al-Qurthubi:
وَقَدِ اسْتَدَلَّ الْقُرْطُبِيُّ وَغَيْرُهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ عَلَى وُجُوبِ نَصْبِ الْخَلِيفَةِ لِيَفْصِلَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا يَخْتَلِفُونَ فِيهِ، وَيَقْطَعَ تَنَازُعَهُمْ، وَيَنْتَصِرَ لِمَظْلُومِهِمْ مِنْ ظَالِمِهِمْ، وَيُقِيمَ الْحُدُودَ، وَيَزْجُرَ عَنْ تَعَاطِي الْفَوَاحِشِ، إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ مِنَ الْأُمُورِ الْمُهِمَّةِ الَّتِي لَا يُمْكِنُ إِقَامَتُهَا إِلَّا بِالْإِمَامِ، وَمَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Sungguh Al-Qurthubi dan yang lainnya telah berdalil dengan ayat ini mengenai wajibnya mengangkat khalifah untuk menyelesaikan perselisihan di antara manusia, memutus pertikaian mereka, membela orang yang dizalimi dari orang yang menzaliminya, menegakkan hudud, mencegah perbuatan keji, dan berbagai perkara penting lainnya yang tidak mungkin ditegakkan kecuali dengan adanya seorang imam. Dan sesuatu yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu juga menjadi wajib.”
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, I/221.
Kaidah yang digunakan dalam penjelasan tersebut adalah:
وَمَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ
“Suatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu tersebut menjadi wajib.”
Apa Makna Khalifah dalam QS Al-Baqarah Ayat 30?
Allah menyebutkan:
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
Kata khalifah berasal dari kata dasar خَلَفَ (khalafa) yang secara bahasa berkaitan dengan makna menggantikan atau berada setelah sesuatu.
Para ulama bahasa juga menjelaskan makna tersebut. Imam Al-Azhari, misalnya, membahas kata khalifah dalam Tahdzib Al-Lughah.
Bentuk jamak dari khalifah antara lain خُلَفَاءُ (khulafa') dan خَلَائِفُ (khala'if). Penggunaan bentuk tersebut dapat ditemukan dalam sejumlah ayat Al-Qur'an.
Allah berfirman:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ
“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi.”
QS Al-An'am: 165
Allah juga berfirman:
وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ
“Dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi.”
QS An-Naml: 62
Imam Al-Farra ketika menjelaskan QS Al-An'am ayat 165 menyebut bahwa umat Muhammad SAW dijadikan sebagai khala'if, yakni generasi yang menggantikan umat-umat sebelumnya.
Imam Ath-Thabari juga menjelaskan makna pergantian tersebut sebagai adanya manusia yang hidup setelah kepemimpinan manusia sebelumnya dan menggantikan mereka di muka bumi.
Pengertian Khalifah Menurut Istilah Syariat
Dalam terminologi syariat, istilah khalifah juga digunakan dengan pengertian yang berkaitan dengan Al-Imam Al-A'zham, yakni pemimpin tertinggi.
Imam Ar-Ramli memberikan definisi:
الخليفة هو الإمام الأعظام، القائم بخلافة النبوة، في حراسة الدين وسياسة الدنيا
“Khalifah adalah imam agung yang menjalankan kedudukan khilafah nubuwwah dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia.”
Definisi lainnya dikemukakan Prof. Muhammad Rawwas Qal'ahji:
الخليفة؛ من ولي الإمامة العامة للمسلمين: الرئيس الأعلى للدولة الإسلامية
“Khalifah adalah orang yang memegang kepemimpinan umum kaum Muslimin, yaitu pemimpin tertinggi negara Islam.”
Sementara itu, definisi yang lebih praktis menjelaskan:
الخليفة هو الذي ينوب عن الأمة في الحكم والسلطان، وفي تنفيذ أحكام الشرع
“Khalifah adalah orang yang mewakili umat dalam pemerintahan dan kekuasaan serta dalam menerapkan hukum-hukum syariat.”
Dari sejumlah definisi tersebut, istilah khalifah menunjuk kepada sosok yang memegang kepemimpinan, sedangkan khilafah digunakan untuk menyebut sistem atau institusi kepemimpinan tersebut.
Khalifah, Imam, dan Amirul Mukminin
Dalam literatur ulama, istilah imam, khalifah, dan amirul mukminin juga digunakan sebagai istilah yang memiliki kedekatan makna.
Imam An-Nawawi menyatakan:
يجوز أن يقال للإمام : الخليفة ، والإمام ، وأمير المؤمنين
“Seorang imam boleh disebut dengan khalifah, imam, atau Amirul Mukminin.”
Karena itu, pembahasan tentang khilafah dalam literatur klasik sering kali beriringan dengan pembahasan tentang imamah.
Imam Al-Mawardi menjelaskan:
الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا به
“Imamah ditetapkan sebagai pengganti kedudukan kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengannya.”
Perbedaan Istilah Khalifah dan Khilafah
Secara kebahasaan, khalifah menunjuk kepada sosok atau orang yang menjadi pengganti. Kata tersebut mengikuti pola fa'ilah.
Kata khalifah juga berkaitan dengan pengertian:
الَّذِي يُسْتَخْلَفُ مِمَّنْ قَبْلَهُ
“Orang yang menggantikan orang sebelumnya.”
Bentuk jamaknya adalah khala'if, sementara menurut Imam Sibawaih, bentuk jamaknya juga dapat berupa khulafa'.
Dari sini dapat dibedakan antara istilah khalifah sebagai subjek pemimpin dan khilafah sebagai istilah yang digunakan untuk menyebut konsep atau institusi kepemimpinan.
Dengan kata lain, seseorang disebut khalifah karena ia menduduki kedudukan kepemimpinan dalam sistem khilafah.
Khilafah dalam Perspektif Pembahasan Ulama
Dari uraian ayat dan kutipan para ulama tersebut, tulisan ini menempatkan pembahasan khilafah sebagai bagian dari khazanah fikih dan pemikiran politik Islam.
QS Al-Baqarah ayat 30 digunakan sebagai salah satu landasan pembahasan mengenai khalifah. Penafsiran Al-Qurthubi dan nukilan Ibnu Katsir kemudian digunakan untuk menjelaskan hubungan ayat tersebut dengan kewajiban mengangkat imam atau khalifah.
Sementara itu, pembahasan kebahasaan menunjukkan bahwa istilah khalifah memiliki makna yang berkaitan dengan pergantian dan kepemimpinan. Dalam terminologi syariat, sejumlah ulama mendefinisikannya sebagai kepemimpinan umum kaum Muslimin dalam rangka menjaga agama dan mengatur urusan dunia.
Karena itu, dalam kerangka argumentasi yang digunakan oleh tulisan ini, persoalan khilafah dipandang bukan sekadar istilah politik kontemporer, melainkan bagian dari pembahasan yang telah hadir dalam literatur ulama terdahulu.
Penutup
Pembahasan mengenai khilafah berdasarkan QS Al-Baqarah ayat 30 menunjukkan adanya hubungan antara konsep khalifah, kepemimpinan, dan tanggung jawab menjaga agama serta mengatur kehidupan manusia.
Para ulama yang dikutip dalam pembahasan ini, seperti Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Al-Mawardi, An-Nawawi, dan Ar-Ramli, memiliki pembahasan mengenai imam, khalifah, dan imamah dalam karya-karya mereka.
Berdasarkan kerangka pemikiran yang disampaikan dalam tulisan sumber, kewajiban mengangkat khalifah dipahami sebagai sarana untuk menjalankan berbagai kewajiban yang membutuhkan otoritas kepemimpinan, termasuk menyelesaikan perselisihan, memberikan perlindungan kepada pihak yang terzalimi, menegakkan hukum, serta mengatur berbagai urusan penting umat.
Dalam perspektif tersebut, khilafah dipahami sebagai bagian dari pembahasan syariat dan khazanah fikih Islam. Tulisan sumber kemudian mengaitkan berakhirnya institusi Khilafah Utsmaniyah pada 3 Maret 1924 dengan seruan untuk mengembalikan kembali kepemimpinan khilafah dan mengangkat seorang khalifah yang menjalankan hukum-hukum Islam serta membawa dakwah Islam ke berbagai penjuru dunia.
