Minta Maaf, Sebelum Terlambat

 🗒️Minta Maaf, Sebelum Terlambat

Kata 'maaf' menjadi kata yang 'wajib' ada di hari lebaran Idul Fitri. Saling mengunjungi atau 'unjung-unjung' dan saling minta maaf seakan telah menjadi agenda wajib selepas shalat Id. Di grup-grup WA pun bertebaran chat-chat ucapan selamat lebaran dan mohon maaf, baik yang sekedar chat tulisan, meme atau bahkan video pendek. Tentu, hal ini semua untuk lebih menguatkan jalinan ikatan, baik persaudaraan, pertemanan, rekanan atau dalam kehidupan bertetangga dan bermasyakat. 

Temans, meskipun tidak ada tuntunan khusus untuk bermaaf-maafan saat lebaran, akan tetapi hal ini positif dan  tidak terlarang bahkan diperintahkan. Perintah ini didasarkan pada  dalil umum yang memerintahkan kita untuk saling memaafkan. Misalnya dalam firman Allah Ta'ala yang menyebutkan salah satu karakter utama seorang bertakwa adalah memaafkan kesalahan orang lain.  Firman-Nya :

...وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

"... dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan." (QS. ali-Imran : 134) 

Mengenai ayat di atas, Imam Ibnu Katsir berkata :

أَيْ: مَعَ كَفِّ الشَّرِّ يَعْفُونَ عَمَّنْ ظَلَمَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ، فَلَا يَبْقَى فِي أَنْفُسِهِمْ مَوجدة عَلَى أَحَدٍ، وَهَذَا أَكْمَلُ الْأَحْوَالِ

"Yaitu, menahan diri berbuat buruk,  mereka juga memaafkan orang yang telah berbuat aniaya terhadap dirinya, sehingga tiada suatu uneg-uneg pun yang ada dalam hati mereka terhadap seseorang. Hal ini merupakan akhlak yang paling sempurna."

Temans, pada dasarnya meminta maaf tidak perlu menunggu momen hari raya.  Begitu berbuat kesalahan atau kezhaliman,  kita diperintahkan untuk segera minta maaf, minta dihalalkan tanpa menunda-nunda. Hal ini harus segera dilakukan sebelum terlambat, sebelum ajal menjemput kita. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :

 مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لأَحَدٍ مِنْ عِرْضِهِ ، أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ ، وَلاَ دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ.

“Barangsiapa pernah melakukan kezhaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal shalih, akan diambil darinya seukuran kezhalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizhalimi) kemudian dibebankan kepadanya." (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Temans, meminta maaf atas kesalahan bukan persoalan mudah, tidak segampang yang dibayangkan. Bisa jadi ada yang mengatakan, "Alah, kan tinggal bilang minta maaf, apa sih sulitnya?" Tetap saja, pada prakteknya tidak semudah itu. 

Temans, mengakui kesalahan dan meminta maaf pada umumnya berat dilakukan.  Kebanyakan kita akan malu mengakui kesalahan dan cenderung membela diri. Kita bisa jadi mengajukan sejuta alasan agar terhindar dari satu kesalahan dan terlepas darinya. Karenanya meminta maaf memerlukan keikhlasan hati dan kesungguhan, tidak sekedar formalitas. Dengan hati tulus dan ikhlas karena Allah Ta'ala, kita akan sungguh-sungguh meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat sekecil apapun. 

Kita hendaknya menyadari bahwa setiap saat  berpeluang melakukan kesalahan. Tidak ada manusia yang luput dari dosa, disengaja ataupun tidak. Dosa itu baik kepada Allah Ta'ala maupun kepada sesama manusia, khususnya orang-orang terdekat dan biasa berinteraksi dengan kita. Sikap terbaik bagi kita adalah perbanyaklah meminta maaf dan keridhaan, terutama di momen lebaran kali ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad dan al-Hakim dari Anas) 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :

لَوْ أَنَّ اْلعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوْا، لَخَلَقَ اللهُ خَلْقًا يُذْنِبُونَ، ثُمَّ يَغْفِرُ لَهُمْ، وَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

“Seandainya para hamba tidak melakukan dosa niscaya Allah akan menciptakan makhluk lain yang melakukan dosa, kemudian Allah akan mengampuni mereka, dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (HR. Al-Hakim) 

Temans, kita tentu tidak ingin bila seluruh kesalahan kita pada orang lain akan dibebankan di akhirat kelak. Pada akhirnya, kita akan jadi bangkrut (muflis) di akhirat. Yaitu, ketika seluruh amal kebaikan kita akan diambil untuk menebus kesalahan kita di dunia. Tidak hanya itu, bila kebaikan kita tidak cukup, maka kesalahan dan dosa orang yang dizhalimi atau sakiti akan ditimpakan ke kita. Na'udzubillahi min dzālik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

 إنَّ المُفْلِسَ مِن أُمَّتي يَأْتي يَومَ القِيامَةِ بصَلاةٍ، وصِيامٍ، وزَكاةٍ، ويَأْتي قدْ شَتَمَ هذا، وقَذَفَ هذا، وأَكَلَ مالَ هذا، وسَفَكَ دَمَ هذا، وضَرَبَ هذا، فيُعْطَى هذا مِن حَسَناتِهِ، وهذا مِن حَسَناتِهِ، فإنْ فَنِيَتْ حَسَناتُهُ قَبْلَ أنْ يُقْضَى ما عليه أُخِذَ مِن خَطاياهُمْ فَطُرِحَتْ عليه، ثُمَّ طُرِحَ في النَّارِ.

“Sesungguhnya orang yang benar-benar bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah mencela, menuduh tanpa bukti, memakan harta orang lain, menumpahkan darah, dan memukul sesama. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang ia zalimi. Jika pahalanya habis sementara kezalimannya belum terbayar, dosa-dosa mereka dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Temans, suatu kesalahan kepada orang lain yang kita anggap kecil dan remeh, belum tentu kecil bagi orang lain. Karena itu jangan remehkan sekecil apapun dosa kita. Sekecil apapun dosa kota pasti akan dibalas. Firman Alllah Ta'ala :

وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ

"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Al-Zalzalah : 8) 

Temans, meminta maaf juga harus dilakukan dengan hati yang lapang serta kesadaran penuh akan kekeliruan yang telah diperbuat. Tentu, hal ini bukan persoalan mudah. Biasanya kita akan lebih mengedepankan ego daripada kesadaran, lebih mendahulukan gengsi daripada sifat malu.

Temans, karena itu meminta maaf juga akan menghilangkan rasa sombong dari diri kita, menghilangkan rasa dengki dan kemarahan pada hati saudara kita. Termasuk pula akan mengantisipasi tudingan dan prasangka buruk terhadap diri kita ketika melakukan sesuatu yang secara zhahir salah.

Temans, selain itu reputasi kita juga sama sekali tidak akan rusak karena mengakui kesalahan. Kesalahan dan dosa bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa terkecuali. Lihatlah sikap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam ketika mengira bahwa batang-batang kurma tidak perlu dilakukan penyerbukan, lalu menyarankan para shahabat untuk tidak berbuat demikian. Ternyata saran Nabi ini berakibat hasil panen kurma menjadi jelek. Setelah itu, beliau bersabda :

إِنْ كَانَ يَنْفَعُهُمْ ذَلِكَ فَلْيَصْنَعُوهُ فَإِنِّى إِنَّمَا ظَنَنْتُ ظَنًّا فَلاَ تُؤَاخِذُونِى بِالظَّنِّ 

"Jika penyerbukan itu bermanfaat bagi mereka, silahkan mereka melakukannya. Aku hanya mengira-ngira. Janganlah kalian mencelaku lantaran perkiraan itu." (HR. Muslim) 

Temans, sungguhpun meminta maaf itu baik, namun ada yang lebih baik, yaitu memberi maaf. Namun sayangnya yang lebih baik ini kurang diamalkan atau jarang dipraktekkan. Mengapa memberi maaf atau pemaaf itu lebih baik dan mulia? Karena pihak yang dimintai maaf umumnya dalam posisi yang dirugikan, dizhalimi, disalahi, disakiti dan sejenisnya. Sementara pihak yang meminta maaf umumnya (meski tidak selalu) adalah pihak yang menzhalimi, menyakiti, merugikan dan sejenisnya. 

Temans, karena itu wajar atau tidak istimewa jika pihak yang salah meminta maaf, sedangkan pihak yang dirugikan akan  ‘berat’ memaafkan. Nah, dalam posisi seperti ini, anjuran lebih banyak ditujukan kepada pihak yang dirugikan untuk berjiwa besar dan lapang mau memaafkan kasalahan orang lain.

Temans, tidak heran bila jumlah ayat dan hadits lebih banyak kita temukan anjuran untuk memaafkan dibanding minta maaf. Diantaranya, Allah Ta'ala berfirman : 

 خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. al-A’raf : 199) 

Juga firman-Nya : 

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ 

"Balasan suatu keburukan adalah keburukan yang setimpal. Akan tetapi, siapa yang memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim." (QS. As-Syura : 40) 

Saudaramu, 🙏🤝

U.S.A

Lebih baru Lebih lama