Subscribe Us

header ads
KH. Hasyim Muzadi (almarhum) dalam sebuah tulisan beliau di Republika menjelaskan tentang peristiwa Isra’ dan Mi’raj dengan judul Al Amin dan Isra Mi’raj. Tulisan ini dipublikasikan pada tahun 2016.

Kini, di tahun 2019 ini, kita akan membahas hikmah dari peristiwa ini dalam perspektif kekinian sesuai kondisi kita sekarang. 



Sepulangnya dari Masjidil Aqsha di Palestina (Isra’) dan dari sidratil Muntaha langit ke tujuh (Mi’raj), Rasulullah ﷺ lalu mengabarkan peristiwa ini kepada kaum Quraisy. 

Kaum Quraisy tidak percaya bahkan menertawakan Rasulullah ﷺ. Itu adalah hal yang mustahil dalam semalam menempuh perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina bahkan naik lagi ke langit yang ketujuh menuju sidratil muntaha.

1500 km jarak yang harus ditempuh untuk melakukan Isra’ saja. Hal itu hanya bisa ditempuh sekitar 40 hari 40 malam menggunakan kendaraan yang biasa dipakai saat itu disana. 

Belum lagi jarak menuju langit yang ketujuh bahkan hingga sampai ke sidratil muntaha (mi’raj) sungguh jarak yang sangat jauh.

Orang-orang Quraisy tidak mempercayainya, mustahil dan itu hal yang tidak bisa dipercaya. Menurut mereka kala itu.

Berbeda dengan Abu Bakar ra yang ketika mendengar kabar itu dari Rasulullah ﷺ serta merta beliau membenarkan apa yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ.  

Begitulah, peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini menjadi ujian keimanan bagi semua orang untuk membedakan mana yang benar imannya dan mana yang masih ada keraguan di dalam hatinya atas kerasulan Muhammad ﷺ. 

Orang Quraisy tidak mempercayai beliau ﷺ, sedangkan para sahabat termasuk diantaranya Abu Bakar ra mempercayai beliau ﷺ. 

Lalu bagaimana dengan kita sekarang ? ya sekarang adalah bulan Rajab 1440 H, bulan Rajab adalah bulan dimana beliau ﷺ mengikuti prosesi Isra’ dan Mi’raj tersebut. 

Kita bukan dalam rangka untuk mempertanyakan lagi apakah beliau ﷺ pernah melakukan Isra’ dari masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina yang jaraknya 1500 km (dulu hanya bisa ditempuh selama 40 hari 40 malam) ? bukan untuk itu. 

Karena sekarang kita bisa mengatakan itu hal yang sangat mudah yaitu dengan menggunakan pesawat. Bila menggunakan mobil butuh waktu 15,5 jam, menggunakan kereta butuh waktu 17,7 jam, dengan menggunakan pesawat hanya 1,4 jam. Sebagaimana yang dihitung oleh http://id.toponavi.com/5073-64153.

Dulu memang ya, itu hal yang mustahil karena teknologinya belum kita ketahui. Memang ini adalah ujian apakah kita mau percaya atau tidak kepada beliau ﷺ.

Begitu juga dengan peristiwa Mi’raj beliau dulu adalah hal yang sangat aneh, namun sekarang sudah bisa dinalar dengan baik dengan adanya teknologi sekarang walaupun belum ada yang menyamai kecepatan Buraq yang beliau kendarai yang kecepatannya melebihi kecepatan kilat (cahaya). 

Buraq berasal dari kata Barqun (bahasa arab artinya kilat) yang dari namanya saja kita sudah terbayang kecepatan tempuh kendaraan tersebut. 

Perlu diketahui bahwa kecepatan cahaya mencapai kira-kira 3.00×108 m/s atau 300.000 km/detik. (sumber https://id.wikipedia.org/wiki/Laju_cahaya)

Jadi untuk menempuh perjalanan 1500 km hanya butuh waktu 0,005 detik. Tidak sampai 1 detik sudah sampai ke Masjidil Aqsha di Palestina.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah hal yang nyata dialami oleh Rasulullah ﷺ. 

Namun, dulu hal itu tidak dipercayai oleh orang-orang Quraisy yang secara akal fikiran memang susah difahami. Tapi, sekarang berbeda, Allah membuka dan menyingkap sedikit rahasianya sehingga hal itu sudah mudah kita fahami. 

Lalu pelajaran apa yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra’ dan Mi’raj di bulan Rajab ini ? 

Pelajarannnya adalah, bila Anda mendapatkan kabar dari Rasulullah ﷺ apakah Anda akan mempercayainya atau meragukannya ? 

Walaupun hal itu sekarang belum terealisasi ? sulit merealisasikannya atau situasi dan kondisi kita sulit melihat realitasnya ? apakah Anda akan percaya terhadap apa yang beliau sampaikan ?

Akankah Anda menjadi Abu Bakar ra di jaman itu yang 100% mempercayai apa yang beliau ﷺ sampaikan ? 

Atau menjadi orang-orang yang ragu yang menolak dan tidak mempercayai apa yang beliau sampaikan ? dan mereka adalah orang-orang munafiq juga orang-orang yahudi dan nasrani. 

Apakah Anda akan mempercayai apa yang beliau ﷺ sampaikan walaupun masih berupa kabar sebagaimana dulu beliau menyampaikan kabar peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini kepada kaum Quraisy ?

Apakah Anda masih percaya kepada apa yang disampaikan Rasulullah ﷺ ketika beliau menyatakan 


إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا 

وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَامَا زُوِيَ لِي مِنْهَا

Sesungguhnya Allah menghimpun bumi untukku lalu aku melihat timur dan baratnya dan sesungguhnya kekuasaan ummatku akan mencapai yang dihimpunkan untukku,… (HR. Muslim 5144, Abu Daud 3710, Ahmad 21415)

Apakah Anda masih punya kepercayaan kepada apa yang disampaikan Rasulullah ketika beliau menyatakan 

ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

(الجامع الصحيح للسنن والمسانيد)

Kemudian akan tegak kembali Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian. (HR. Ahmad dan yang lain. Lihat Kitab Kumpulan Hadits shahih kitab sunan dan musnad 2/263)

Kalau masyarakat Quraisy saja memberi gelar Al Amin (orang yang patut dipercaya) kepada beliau apalagi kita sebagai umat beliau yang mengimani dan meyakini beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah. 

Jadi, jika di bulan Rajab 1440 H ini masih ada seorang muslim yang  tidak percaya pada apa yang beliau sampaikan diatas, wal ‘iyadzubillah

Kami berlindung kepada Allah dari sikap yang demikian itu.

Senin, 12 Rajab 1440 H
Waw


Lebih baru Lebih lama