Subscribe Us

header ads
Matahari bisa jadi adalah sesuatu yang paling "tersanjung" berkat peristiwa Gerhana Matahari Total (Kusufun Kulliyun li as-Syamsi) 9 Maret 2016 lalu.

Betapa tidak, ribuan orang mendengar namanya, jutaan mata melihat atau berusaha menatapnya langsung, bahkan milyaran orang membicarakannya.

Sampai sekarang streamingnya pun masih dilihat oleh banyak orang di internet.

Namun, sudahkah Anda tahu permintaan MATAHARI yang ditolak Allah ?

Mari kita dengarkan penuturan sahabat mulia Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu :

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَال
 dari Abu Dzar radliallahu 'anhu berkataَ

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي ذَرٍّ حِينَ غَرَبَتْ الشَّمْس
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Abu Dzar ketika matahari sedang terbenam:

ُ أَتَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ
“Tahukah kamu kemana (matahari) itu pergi?"

 قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ
Aku jawab; "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu"

قَالَ فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ
Beliau berkata: "Sesungguhnya dia akan terus pergi hingga bersujud di bawah al-'Arsy

 فَتَسْتَأْذِنَ فَيُؤْذَنُ لَهَا وَيُوشِكُ أَنْ تَسْجُدَ فَلَا يُقْبَلَ مِنْهَا
lalu dia minta izin kemudian diizinkan dan dia minta agar terus bersujud namun tidak diperkenankan

وَتَسْتَأْذِنَ فَلَا يُؤْذَنَ لَهَا يُقَالُ لَهَا ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْت
dan minta izin namun tidak diizinkan dan dikatakan kepadanya: "Kembalilah ke tempat asal kamu datang".

ِ فَتَطْلُعُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى
Maka matahari itu terbit (keluar) dari tempat terbenamnya tadi". Begitulah sebagaimana firman Allah

{ وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ العليم }

Dan matahari berjalan pada tempat peredarannya (orbitnya). Demikianlah itu ketetapan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui) (QS. Yasin 38)
(HR. Bukhari : 2960, Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir Surat Al-Hajj ayat 18)

Lihatlah matahari dimanapun Anda sekarang berada, usahakanlah melihatnya. Keluarlah bila sekarang Anda berada di dalam ruangan atau gedung. Karena sensasinya akan berbeda bila Anda hanya membayangkannya..

Lihatlah ia (matahari). Cahayanya yang terang benderang, panasnya yang menyengat kulit (bila siang hari). Cahayanya yang indah di saat terbit dan terbenam.

Ya itulah dia matahari, matahari yang dulu pernah meminta izin kepada Allah untuk terus bersujud, bersujud dan ingin teruuuus……...bersujud, Namun Allah menolaknya.

Itulah keinginan Matahari; yaitu ingin terus bersujud kepada Allah. Inilah wujud ketundukan dan kepatuhan Sang Matahari.

Namun, perhatikanlah lagi saat ia diperintah oleh Allah untuk kembali kepada tugasnya . Ia patuh dan tunduk pada perintah Allah, lagi-lagi ia menunjukkan kepatuhan dan ketaatannya.

Sampai disini, tidakkah hati kita merasa malu saat mengetahui bahwa matahari pagi hari ini masih terbit ? atau hari ini bumi kita masih diterpa sinar matahari ?

Bukankah pagi hari itu cerah, matahari bersinar terang benderang menerpa bumi adalah wujud ketundukan dan kepatuhannya (matahari) kepada Allah ?

Sedangkan sampai hari ini kita masih ada yang gelisah bila diajak untuk berhukum dengan aturan dan syariat Allah…?!

Tidakkah kita malu melihat ketaatan, ketundukan dan kepatuhan Matahari kepada Allah detik demi detik yang tidak pernah luntur ? Sementara kita yang disinari oleh matahari masih enggan bila diajak berhukum dengan aturan dan syariat Allah ?

أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسۡجُدُۤ لَهُۥۤ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلۡجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَكَثِيرٞ مِّنَ ٱلنَّاسِۖ

Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud (dengan penuh ketaatan tanpa paksaan) apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? (TQS. Al-Hajj : 18)

Allahu Akbar wahai Matahari…...
Semoga sinarmu di pagi hingga siang hari menjadi inspirasi bagi kami untuk senantiasa taat, tunduk dan patuh kepada Allah, kepada aturan dan syariatNya. Amin.

Surabaya, Ahad 13 Maret 2016
Wajdi Abdul Wahid

Lebih baru Lebih lama